“TIME
is LOVE”
Kringgg..kringgg...kringgg...,
alarm berbunyi menunjukkan pukul lima pagi yang mana waktu subuh telah masuk.
Saya segera bangun, karena hari ini merupakan hari yang sangat penting. Saya
segera bangkit dari tempat tidur dan shalat subuh, setelah itu persiapan untuk
berangkat ke sekolah. Hari ini adalah hari perpisahan angkatan akhir yang akan
di laksanakan di sekolah SMPN 01 Pekanbaru. Untuk acara perpisahan ini, saya mendapat
amanah sebagai perwakilan angkatan saya memberikan kesan dan pesan untuk
terakhir kalinya siswa/siswi kelas IX SMPN 01 Pekanbaru. Karena ini merupakan
hari penting bagi saya, kedua orang tua pun ikut bersama saya menghadiri acara
perpisahan sekolah.
Setibanya di sana,
ternyata acara telah dimulai dan untungnya itu baru pembukaan. Kedua orang tua
saya langsung mengambil tempat duduk dan saya bergabung dengan teman yang
lainnya. Satu persatu kata sambutan dari kepala sekolah dan tamu undangan
lainnya telah dipanggil dan menaiki panggung yang cukup luas itu. “Dan
selanjutnya kita beri kesempatan untuk salah satu perwakilan dari kelas IX
untuk menyampaikan kesan dan pesan, yang akan disampaikan oleh salah satu teman
kita yaitu Reisya Aditia, kepadanya waktu dan tempat kami persilahkan” dengan
semangatnya pembawa acara memanggil dan memberi kesempatan kepada saya untuk
maju ke atas panggung.
Tibalah saat dimana
saya akan menyampaikan beberapa patah kata sebagai perwakilan dari angkatan
yang akan meninggalkan sekolah ini. “yang terhormat Kepala Sekolah SMPN 01
Pekanbaru beserta wakilnya, yang terhormat guru-guru beserta staff dan tamu
undangan, serta teman-teman adik-kakak seperjuangan yang berbahagia...” itulah
pembukaan saya dan akan dilanjuti dengan beberapa patah kata yang telah saya
persiapkan sebelumnya. Setelah usainya saya menyampaikan beberapa kata,
sebagian besar orang-orang yang berada di dalam gedung bertepuk tangan dengan
rautan wajah yang penuh rasa bangga dan terharu. Saya turun dari atas panggung,
dan saat itu pula sahabat-sahabat saya memeluk tubuh yang mungil ini hingga
tanpa disadari air mata pun telah membasahi pipi kami, terutama sahabat yang
telah menemani saya dari bangku kelas VII Aini, Rita, dan Vivi.
Setelah beberapa saat
kemudian, tibalah acara penampilan-penampilan dari adik-adik kelas. Kami
angkatan akhir hanya duduk manis dan memperhatikan mereka yang akan tampil
dengan memberikan semangat. Dengan penampilan-penampilan itu maka berlanjutlah
acara penutup, wajah yang sebelumnya dipenuhi dengan tawaan hilang seketika.
Acara penutup ini, yaitu salam-salaman antara siswa/siswi akhir kepada seluruh
guru-guru. Suara tangisan yang begitu kencang terdengar dari salah satu teman kami, ternyata
Andi siswa favorit di sekolah dan salah satu favorit saya juga setelah Daniel
Radclife aktor utama dari film Harry Potter. Andi anak pindahan dari Bandung,
ayahnya yang pengusaha sukses membuat Andi suka berpindah-pindah sejak SD. Ketika
Andi menyalami Wali kelas yang selama ini telah membimbing kami, Andi tidak dapat
menahan emosinya dan air matanya. Ini pertama kalinya saya dan bagi yang
lainnya melihat Andi menangis, yang mana selama ini Andi selalu semangat dan
riang serta terkenal akan senyumannya yang manis.
Semenjak satu kelas
dengan Andi, Saya pernah memiliki perasaan ke siswa favorit ini. Perasaan ini
tiba-tiba tumbuh pada saat kami satu kelompok dipelajaran IPA. Saya sangat
mengingat kejadiannya, saat itu satu kelompok terdiri dari tiga orang. Saya
satu kelompok dengan Andi dan Vivi. Ketika menuju Laboratorium di lantai atas,
tiba-tiba terpeleset ketika menaiki anak tangga. Vivi yang saat itu di samping
saya kaget melihat kejadian ini, dan segera menolong saya. Andi dari belakang
menghampiri dan menolong saya untuk berdiri dengan Vivi yang sedikit kesulitan
ketika menolong saya untuk berdiri. Lutut yang terluka dan sedikit mengeluarkan
darah serta telapak tangan yang tergores, membuat Vivi sangat khawatir dan
meminta Andi untuk membawa saya ke ruang kesehatan. Saat itulah perasaan ini
dimulai, dan Vivi yang pertama kali tahu setelah saya bercerita keesokannya.
Tidak ada yang tahu selama ini akan perasaan yang saya miliki kecuali
sahabat-sahabat saya. Hingga perpisahanpun saya masih menyimpan perasaan ini
tanpa memberitahu kebenarannya ke Andi. Saya sadar akan perasaan ini hanya
sementara, karena saya berpikir tidak pantas yang hanya siswi biasa walaupun
aktif di OSIS memiliki perasaan ke Andi. Namun, saya bingung perasaan ini tidak
hilang, selalu ada hingga detik ini.
Setelah berakhirnya
sekolah kami di SMPN 01 Pekanbaru ini, kami telah memiliki tujuan masing-masing.
Aini, Rita dan Vivi masuk sekolah yang sama, sedangakan saya akan meninggalkan
kota ini, Bunda ingin saya masuk ke salah satu Pondok Pesantren di Jawa Timur. Mungkin
inilah yang terbaik bagi saya untuk tidak salah pergaulan nantinya. Pikiran
positif yang selalu ada ketika bunda dan ayah memberikan sebuah pilihan apapun
itu.
Keesokannya, tepatnya
hari minggu teman-teman mengajak saya ke bioskop. Teett..teett,
“Assalamu’alaikum, Caca...” ketika bel berbunyi dan suara Aini terdengar dari
pintu depan. “Wa’alaikumsalam...” dengan lantang saya menjawab dan seegera
menuju pintu depan. “Hai, ayo masuk” mempersilahkan mereka masuk dan kami
langsung menuju kamar. “Bundamu kemana?” Vivi yang penasaran dengan suasana
rumah yang sepi, “Bunda sama Ayah ke pasar” saya menjawab. Mereka yang saat itu
masuk kamar dan melihat betapa nyamannya kamar ini yang di penuhi dengan
poster-poster Harry Potter.
Sejam kemudian, terdengar
suara Bunda dari depan “Assalamu’alaikum, Ca...”. “Itu Bunda udah pulang” saya
memberitahukan pada mereka. “Iya Bun...Caca lagi di kamar ada teman-teman Caca”
dari kamar saya menjawab panggilan Bunda. “Ajak temannya ke bawah, Bunda beli
martabak manis nih” Bunda yang saat itu terdengar sedang di dapur. “Ca...ayo
turun, itu Bunda mu nawarin martabak manis” kata Rita. Di antara kami, Ritalah
yang paling doyan dengan martabak. Sebenarnya saya juga doyan dengan martabak,
namun Rita yang sangat menyukai martabak manis. “Huu...Rita, kalau udah
martabak, Rita nomor satu” sahut Vivi. “Iya....iya, ayo keluar” menarik tangan
Rita yang dari tadi tidak sabaran. Kami bersama keluar dari kamar, dan saat itu
tiba-tiba Aini menarik tangan saya “Ca...jangan lupa izin ke Bundamu pergi ke
bioskop sekarang” dengan tegas Aini mengingatkan saya. “Iya...tapi, kalian
bantu izinin juga ya” tanpa ragu meminta bantuan mereka.
Saat di dapur,
teman-teman langsung menyalami Bunda yang sudah menjadi kebiasaan mereka ketika
bertemu Bunda dan Ayah juga tidak terlewatkan. “Aini, Rita, Vivi, bagaimana
kabarnya?” sambil Bunda menerima salam mereka. “Baik Bunda” dengan kompak
mereka menjawab pertanyaan Bunda. Bukan hanya saya yang memanggil Bunda, namun
teman-teman juga memanggil Bunda. Kami sudah seperti saudara, kakak-adik yang
selalu ada kapanpun dan di manapun. “Itu martabaknaya untuk kalian semua,
dihabisin ya...” kata Bunda sambil tersenyum. “Iya Bunda, pasti itu kita
habiskan” sahut Rita yang benar-benar mencintai martabak. “Hu...Rita” barengan
kami menyoraki Rita sambil tertawa ketika melihat teman kami yang satu ini
tersenyum tanpa beban.
“Ca, jangan lupa izin
sama Bunda” Aini yang mengingatkan saya kembali. “Iya, pokoknya kalian juga
bantuin ya...” dengan berbisik-bisik kepada mereka. Saya tidak memiliki
keberanian untuk meminta izin ke Bunda tanpa ada alasan yang jelas serta bukan ajakan
dari teman-teman yang Bunda kenal. “Bunda...”
sambil saya membantu menata barang belanjaan Bunda yang cukup banyak.
“Kenapa Ca?” kata Bunda. “Bunda, kita boleh ajak Caca nonton di bioskop?” Aini
yang tiba-tiba tanpa ragu mengeluarkan keberaniannya. “Iya Bunda, kita boleh
ajak Caca ke bioskop?” Rita yang saat itu belum menyelesaikan martabak di dalam
mulutnya. “Rita, dihabisin dulu yang ada di mulut” Vivi yang mengingatkan salah
satu kebiasaan Rita. “Kalian berempat yang ke bioskop?” tanya Bunda kepada kami
seemua. “Iya Bunda, hanya kami berempat” dengan kompak kami menjawab. “Okey,
Bunda izinin, tapi dengan syarat tidak boleh sampai malam, dan dianterin sama
Pak Parjo” Bunda yang telah memberikan izin dan dengan syarat pastinya. Saya
yakin, Bunda bersikap seperti itu untuk keselamatan kami. “Terimakasih Bunda”
Saya langsung memberi kecupan kecil ke Bunda. Sesegera mungkin dan dengan rasa
senang kami langsung bersiap-siap.
Dengan diantarnya
oleh Pak Parjo sopir di keluarga saya, akhirnya tibalah kami di salah satu mall
yang memiliki bioskop XXI. Kami berada di Matahari Plaza, dan tanpa ragu menuju
lantai atas tempat bioskop berada dengan menggunakan eskalator. Ketika di
lantai 2, kami melihat salah satu teman yang sangat kami kenal. Aini pertama
kali melihatnya “Ca...coba lihat ke depan yang sedang duduk, bukannya itu Andi
teman kita” Aini segera memberitahukan saya. “Iya Ca, itu seperti Andi” sahut
Rita yang ketika itu melihatnya juga. “Andi” sapa Vivi yang tidak mau kalah.
“Hi,” sahut Andi sambil melambaikan tangannya ke kami. “ternyata benar itu
Andi” kata Aini yang penasaran sebelumnya. “Vivi, kenapa dipanggil?” dengan
jantung yang berdebar-debar setelah melihat kebenaran bahwa itu Andi. “Ya sudah
Ca, kita samperin aja” kata Vivi tanpa ragu dan yang sebenarnya dia tahu bahwa
saya sudah lama menyukai laki-laki yang sedang duduk itu.
Kami menghampiri Andi
yang sedang duduk santai dengan gedget di tangannya. Saya tidak berani
menatapnya, karena perasaan ini masih ada. Aini menarik saya ke depan yang saat
itu tepat berada di belakang Vivi. “Aini, hentikan...” bisikan saya dengan
Aini. “Kamu lagi cari apa ke sini?” Aini yang melontarkan pertanyaan ke Andi. “Mmm...gak,
ini lagi cari buku buat persiapan ujian masuk” jawabnya sambil menuunjukkan
bukunya yang tepat berada di samping ia duduk. “kalian?” tanya Andi kembali.
“Kami mau nonton, ayo ikutan Andi” kata Aini. “Boleh tuh, film apa yang akan
kalian tonton?” tanya Andi sambil bangkit dari duduknya.
Kita berjalan
bersama-sama ke lantai atas selanjutnya. Saya bergandengan dengaan Aini dan
Andi tepat berada di sebelah saya, Rita dan Vivi di belakang. Ketika kami
menaiki eskalator, Andi tiba-tiba menanyakan saya kejadian yang lalu ketika
saya terpeleset dari anak tangga “Ca, kamu masih ingat ketika kamu terpeleset
di anak tangga yang saat itu kita ada tugas kelompok di laboratorium?”. “Ha,
kenapa?” dengan suara yang gugup dan tidak ada keberanian untuk menatapnya. “Kamu
lupa ya?” tanya Andi kembali. “Iya, aku masih ingat kejadian itu” jawab saya
dengan malu-malu dan wajah yang mulai memerah.
Sesampai di bioskop,
kami memilih film yang romantis. Kami langsung memasuki ruangannya dengan
popcorn dan minuman di tangan. Film pun dimulai, dan sesaat kemudian di
pertengahan film, air mata ini tiba-tiba membasahi pipi saya. Andi yang duduk
tepat di sebelah tertawa melihat saya
yang nangis ketika menonton film ini. “Begitu sedihkah filmnya?” tanya Andi
sambil tersenyum. “Iya, ini film benar-benar sedih” dengan sedikit isakan saya
menjawab.
Usai sudah film yang
kami tonton, dan kami duduk santai di lobby. Andi yang saat itu menatapi saya
dengan serius, dan saya pun heran dengan arti tatapan itu. “Andi” saya
menyenggol tangannya yang saat itu sedang melamun ketika menatap saya. “Ca,
kamu mau jadi pacar aku?” tiba-tiba kata yang keluar dari mulut Andi ini
membuat jantung berhenti seketika. Saya terdiam sejenak dan sedikit tidak
percaya apa yang dikatakan Andi barusan. “Ca, aku sayang kamu?” sekali lagi
Andi mengatakannya tepat di depan saya. Saya sangat senang mendengarnya, namun
apalah arti dari kata-kata itu. Minggu depan adalah waktu di mana saya akan
meninggalkan kota ini. Bunda telah mendaftarkan saya di Pondok Pesantren di Jawa
Timur. “Aku juga punya perasaan ke kamu, semenjak kita satu kelas” itu jawaban
yang keluar dari mulut. “Kalau gitu, kita sekarang jadian?” tanya Andi untuk
sekian kalinya. “Tapi, apakah bisa kita pacaran?, sedangakan minggu depan
keberangkatan aku ke Jawa Timur, aku akan masuk Pondok Pesantren di sana” saya
memberitahukan yang sebenarnya ke Andi. “Itu tidak amasalah, aku bisa menunggumu” kata Andi dengan harapan.
“Okey, kita coba” kata saya.
Selama seminggu ini,
kita selalu telepon-teleponan dan bahkan kita jalan dengan sahabat-sahabat saya
di hari sebelum keberangkatan. Dan tibalah di mana hari saya akan meninggal
kota bertuah ini. Bunda dan Ayah mengantarkan saya ke bandara. Saya pergi hanya
seorang diri, nantinya setiba di sana ada paman yang akan menjemput dan
mengurus persiapan untuk masuk Pondok.
Ketika saya akan
melakukan chek in, ada yang memanggil saya dari belakang. “Ca...” teriakan
Andi. Saya tidak menyangka, Andi menyusul saya ke bandara dengan
sahabat-sahabat saya. “Hai...” hanya itu kata-kata yang bisa keluar. “Pokoknya
aku akan selalu menunggumu” kata Andi. “Iya Ca, kamu jaga diri ya di sana” kata
mereka. “Iya, makasih semuanya” sambil memeluk sahabat-sahabat yang sangat saya
sayangi ini. “Ketika aku pulang, aku akan segera mengabarinya” kata saya sambil
menatap ke Andi. “Sayang hati-hati ya...” kata Bunda dan Ayah dengan kecupan
yang hangat. “Bunda, Ayah juga jaga diri baik-baik ya...kalian semua juga”
kata-kata perpisahanpun keluar dan melambaikan tangan ke mereka.
Setahun kemudian berakhir,
sayapun kembali ke Pekanbaru. Setibanya di rumah, saya langsung menelpon
sahabat-sahabat yang selama ini saya rindukan. Di tengah obrolan kami,
tiba-tiba suara Aini yang sepertinya sedang sedih “Ca, kita ada kabar buruk”
kata Aini. “kabar buruk apa?” kata saya dengan rasa penasaran. “Andi meninggal
tadi malam tepat pukul 9” kata Aini dengan pelannya. Pikiran jadi kosong,
jantung pun sempat terhenti, dan air mata bercucuran dengan derasnya. “Dia
kecelakaan tadi malam, saat di bawa ke rumah sakit, ternyata nyawanya sudah
tidak dapat ditolong lagi” Aini melanjutkan ceritanya. “Innalillahi wa
Innailaihi raji’un” suara hati saya dan yang selalu bertanya-tanya kalau ini
tidak benar. “Dhuhur ini aku sama yang lainnya ke rumah mu, kita pergi ke
rumahnya” Aini yang selalu berbicara, namun saya menghiraukannya. Saya masih
tidak percaya akan kejadian ini, saya ingat kata-kata sebelum saya berangkat ke
Jawa. “Ca...” kata Aini untuk menyadari saya yang dari tadi tidak mengeluarkan
suara sama sekali.
Dhuhur kami sudah
sampai di rumah Andi yang hanya 15menit dari rumah saya dengan kendaraan. Kami
mulai masuk kerumah Andi, dan melihat ada tenda dan bendera putih di depan
rumahnya, serta warga-wargapun ramai memasuki rumah itu. Saya menguatkan
langkah kaki ini untuk masuk ke dalam rumahnya. Ketika saya berdiri tepat di depan
tubuh yang tertutupi kain putih ini, kaki ini menjadi lemah dan akhirnya saya
rubuh tanpa mempedulikan orang-orang di sekitar. Namun, di dalam hati ini
memberikan saya kekuatan untuk siap menghadapi semua yang terjadi. Akhirnya
saya bangkit kembali setelah beberapa menit terdiam, dan mendekati tubuh yang
tidak bergerak itu lagi. Saya memberanikan diri untuk melihat wajahnya, dan
ternyata itu benar-benar wajah yang selama ini telah menunggu saya. Dan saya
hanya bisa berdo’a untuk seseorang yang telah lama ada di hati, dan meminta
kekuatan untuk bisa menerima musibah ini.
Dini Hasdianti/dhasdianti@gmail.com