Minggu, 11 Agustus 2019

dini punya cerita #1


“TIME is LOVE”
Kringgg..kringgg...kringgg..., alarm berbunyi menunjukkan pukul lima pagi yang mana waktu subuh telah masuk. Saya segera bangun, karena hari ini merupakan hari yang sangat penting. Saya segera bangkit dari tempat tidur dan shalat subuh, setelah itu persiapan untuk berangkat ke sekolah. Hari ini adalah hari perpisahan angkatan akhir yang akan di laksanakan di sekolah SMPN 01 Pekanbaru. Untuk acara perpisahan ini, saya mendapat amanah sebagai perwakilan angkatan saya memberikan kesan dan pesan untuk terakhir kalinya siswa/siswi kelas IX SMPN 01 Pekanbaru. Karena ini merupakan hari penting bagi saya, kedua orang tua pun ikut bersama saya menghadiri acara perpisahan sekolah.
Setibanya di sana, ternyata acara telah dimulai dan untungnya itu baru pembukaan. Kedua orang tua saya langsung mengambil tempat duduk dan saya bergabung dengan teman yang lainnya. Satu persatu kata sambutan dari kepala sekolah dan tamu undangan lainnya telah dipanggil dan menaiki panggung yang cukup luas itu. “Dan selanjutnya kita beri kesempatan untuk salah satu perwakilan dari kelas IX untuk menyampaikan kesan dan pesan, yang akan disampaikan oleh salah satu teman kita yaitu Reisya Aditia, kepadanya waktu dan tempat kami persilahkan” dengan semangatnya pembawa acara memanggil dan memberi kesempatan kepada saya untuk maju ke atas panggung.
Tibalah saat dimana saya akan menyampaikan beberapa patah kata sebagai perwakilan dari angkatan yang akan meninggalkan sekolah ini. “yang terhormat Kepala Sekolah SMPN 01 Pekanbaru beserta wakilnya, yang terhormat guru-guru beserta staff dan tamu undangan, serta teman-teman adik-kakak seperjuangan yang berbahagia...” itulah pembukaan saya dan akan dilanjuti dengan beberapa patah kata yang telah saya persiapkan sebelumnya. Setelah usainya saya menyampaikan beberapa kata, sebagian besar orang-orang yang berada di dalam gedung bertepuk tangan dengan rautan wajah yang penuh rasa bangga dan terharu. Saya turun dari atas panggung, dan saat itu pula sahabat-sahabat saya memeluk tubuh yang mungil ini hingga tanpa disadari air mata pun telah membasahi pipi kami, terutama sahabat yang telah menemani saya dari bangku kelas VII Aini, Rita, dan Vivi.
Setelah beberapa saat kemudian, tibalah acara penampilan-penampilan dari adik-adik kelas. Kami angkatan akhir hanya duduk manis dan memperhatikan mereka yang akan tampil dengan memberikan semangat. Dengan penampilan-penampilan itu maka berlanjutlah acara penutup, wajah yang sebelumnya dipenuhi dengan tawaan hilang seketika. Acara penutup ini, yaitu salam-salaman antara siswa/siswi akhir kepada seluruh guru-guru. Suara tangisan yang begitu kencang  terdengar dari salah satu teman kami, ternyata Andi siswa favorit di sekolah dan salah satu favorit saya juga setelah Daniel Radclife aktor utama dari film Harry Potter. Andi anak pindahan dari Bandung, ayahnya yang pengusaha sukses membuat Andi suka berpindah-pindah sejak SD. Ketika Andi menyalami Wali kelas yang selama ini telah membimbing kami, Andi tidak dapat menahan emosinya dan air matanya. Ini pertama kalinya saya dan bagi yang lainnya melihat Andi menangis, yang mana selama ini Andi selalu semangat dan riang serta terkenal akan senyumannya yang manis.
Semenjak satu kelas dengan Andi, Saya pernah memiliki perasaan ke siswa favorit ini. Perasaan ini tiba-tiba tumbuh pada saat kami satu kelompok dipelajaran IPA. Saya sangat mengingat kejadiannya, saat itu satu kelompok terdiri dari tiga orang. Saya satu kelompok dengan Andi dan Vivi. Ketika menuju Laboratorium di lantai atas, tiba-tiba terpeleset ketika menaiki anak tangga. Vivi yang saat itu di samping saya kaget melihat kejadian ini, dan segera menolong saya. Andi dari belakang menghampiri dan menolong saya untuk berdiri dengan Vivi yang sedikit kesulitan ketika menolong saya untuk berdiri. Lutut yang terluka dan sedikit mengeluarkan darah serta telapak tangan yang tergores, membuat Vivi sangat khawatir dan meminta Andi untuk membawa saya ke ruang kesehatan. Saat itulah perasaan ini dimulai, dan Vivi yang pertama kali tahu setelah saya bercerita keesokannya. Tidak ada yang tahu selama ini akan perasaan yang saya miliki kecuali sahabat-sahabat saya. Hingga perpisahanpun saya masih menyimpan perasaan ini tanpa memberitahu kebenarannya ke Andi. Saya sadar akan perasaan ini hanya sementara, karena saya berpikir tidak pantas yang hanya siswi biasa walaupun aktif di OSIS memiliki perasaan ke Andi. Namun, saya bingung perasaan ini tidak hilang, selalu ada hingga detik ini.
Setelah berakhirnya sekolah kami di SMPN 01 Pekanbaru ini, kami telah memiliki tujuan masing-masing. Aini, Rita dan Vivi masuk sekolah yang sama, sedangakan saya akan meninggalkan kota ini, Bunda ingin saya masuk ke salah satu Pondok Pesantren di Jawa Timur. Mungkin inilah yang terbaik bagi saya untuk tidak salah pergaulan nantinya. Pikiran positif yang selalu ada ketika bunda dan ayah memberikan sebuah pilihan apapun itu.
Keesokannya, tepatnya hari minggu teman-teman mengajak saya ke bioskop. Teett..teett, “Assalamu’alaikum, Caca...” ketika bel berbunyi dan suara Aini terdengar dari pintu depan. “Wa’alaikumsalam...” dengan lantang saya menjawab dan seegera menuju pintu depan. “Hai, ayo masuk” mempersilahkan mereka masuk dan kami langsung menuju kamar. “Bundamu kemana?” Vivi yang penasaran dengan suasana rumah yang sepi, “Bunda sama Ayah ke pasar” saya menjawab. Mereka yang saat itu masuk kamar dan melihat betapa nyamannya kamar ini yang di penuhi dengan poster-poster Harry Potter.
Sejam kemudian, terdengar suara Bunda dari depan “Assalamu’alaikum, Ca...”. “Itu Bunda udah pulang” saya memberitahukan pada mereka. “Iya Bun...Caca lagi di kamar ada teman-teman Caca” dari kamar saya menjawab panggilan Bunda. “Ajak temannya ke bawah, Bunda beli martabak manis nih” Bunda yang saat itu terdengar sedang di dapur. “Ca...ayo turun, itu Bunda mu nawarin martabak manis” kata Rita. Di antara kami, Ritalah yang paling doyan dengan martabak. Sebenarnya saya juga doyan dengan martabak, namun Rita yang sangat menyukai martabak manis. “Huu...Rita, kalau udah martabak, Rita nomor satu” sahut Vivi. “Iya....iya, ayo keluar” menarik tangan Rita yang dari tadi tidak sabaran. Kami bersama keluar dari kamar, dan saat itu tiba-tiba Aini menarik tangan saya “Ca...jangan lupa izin ke Bundamu pergi ke bioskop sekarang” dengan tegas Aini mengingatkan saya. “Iya...tapi, kalian bantu izinin juga ya” tanpa ragu meminta bantuan mereka.
Saat di dapur, teman-teman langsung menyalami Bunda yang sudah menjadi kebiasaan mereka ketika bertemu Bunda dan Ayah juga tidak terlewatkan. “Aini, Rita, Vivi, bagaimana kabarnya?” sambil Bunda menerima salam mereka. “Baik Bunda” dengan kompak mereka menjawab pertanyaan Bunda. Bukan hanya saya yang memanggil Bunda, namun teman-teman juga memanggil Bunda. Kami sudah seperti saudara, kakak-adik yang selalu ada kapanpun dan di manapun. “Itu martabaknaya untuk kalian semua, dihabisin ya...” kata Bunda sambil tersenyum. “Iya Bunda, pasti itu kita habiskan” sahut Rita yang benar-benar mencintai martabak. “Hu...Rita” barengan kami menyoraki Rita sambil tertawa ketika melihat teman kami yang satu ini tersenyum tanpa beban.
“Ca, jangan lupa izin sama Bunda” Aini yang mengingatkan saya kembali. “Iya, pokoknya kalian juga bantuin ya...” dengan berbisik-bisik kepada mereka. Saya tidak memiliki keberanian untuk meminta izin ke Bunda tanpa ada alasan yang jelas serta bukan ajakan dari teman-teman yang Bunda kenal. “Bunda...”  sambil saya membantu menata barang belanjaan Bunda yang cukup banyak. “Kenapa Ca?” kata Bunda. “Bunda, kita boleh ajak Caca nonton di bioskop?” Aini yang tiba-tiba tanpa ragu mengeluarkan keberaniannya. “Iya Bunda, kita boleh ajak Caca ke bioskop?” Rita yang saat itu belum menyelesaikan martabak di dalam mulutnya. “Rita, dihabisin dulu yang ada di mulut” Vivi yang mengingatkan salah satu kebiasaan Rita. “Kalian berempat yang ke bioskop?” tanya Bunda kepada kami seemua. “Iya Bunda, hanya kami berempat” dengan kompak kami menjawab. “Okey, Bunda izinin, tapi dengan syarat tidak boleh sampai malam, dan dianterin sama Pak Parjo” Bunda yang telah memberikan izin dan dengan syarat pastinya. Saya yakin, Bunda bersikap seperti itu untuk keselamatan kami. “Terimakasih Bunda” Saya langsung memberi kecupan kecil ke Bunda. Sesegera mungkin dan dengan rasa senang kami langsung bersiap-siap.
Dengan diantarnya oleh Pak Parjo sopir di keluarga saya, akhirnya tibalah kami di salah satu mall yang memiliki bioskop XXI. Kami berada di Matahari Plaza, dan tanpa ragu menuju lantai atas tempat bioskop berada dengan menggunakan eskalator. Ketika di lantai 2, kami melihat salah satu teman yang sangat kami kenal. Aini pertama kali melihatnya “Ca...coba lihat ke depan yang sedang duduk, bukannya itu Andi teman kita” Aini segera memberitahukan saya. “Iya Ca, itu seperti Andi” sahut Rita yang ketika itu melihatnya juga. “Andi” sapa Vivi yang tidak mau kalah. “Hi,” sahut Andi sambil melambaikan tangannya ke kami. “ternyata benar itu Andi” kata Aini yang penasaran sebelumnya. “Vivi, kenapa dipanggil?” dengan jantung yang berdebar-debar setelah melihat kebenaran bahwa itu Andi. “Ya sudah Ca, kita samperin aja” kata Vivi tanpa ragu dan yang sebenarnya dia tahu bahwa saya sudah lama menyukai laki-laki yang sedang duduk itu.
Kami menghampiri Andi yang sedang duduk santai dengan gedget di tangannya. Saya tidak berani menatapnya, karena perasaan ini masih ada. Aini menarik saya ke depan yang saat itu tepat berada di belakang Vivi. “Aini, hentikan...” bisikan saya dengan Aini. “Kamu lagi cari apa ke sini?” Aini yang melontarkan pertanyaan ke Andi. “Mmm...gak, ini lagi cari buku buat persiapan ujian masuk” jawabnya sambil menuunjukkan bukunya yang tepat berada di samping ia duduk. “kalian?” tanya Andi kembali. “Kami mau nonton, ayo ikutan Andi” kata Aini. “Boleh tuh, film apa yang akan kalian tonton?” tanya Andi sambil bangkit dari duduknya.
Kita berjalan bersama-sama ke lantai atas selanjutnya. Saya bergandengan dengaan Aini dan Andi tepat berada di sebelah saya, Rita dan Vivi di belakang. Ketika kami menaiki eskalator, Andi tiba-tiba menanyakan saya kejadian yang lalu ketika saya terpeleset dari anak tangga “Ca, kamu masih ingat ketika kamu terpeleset di anak tangga yang saat itu kita ada tugas kelompok di laboratorium?”. “Ha, kenapa?” dengan suara yang gugup dan tidak ada keberanian untuk menatapnya. “Kamu lupa ya?” tanya Andi kembali. “Iya, aku masih ingat kejadian itu” jawab saya dengan malu-malu dan wajah yang mulai memerah.
Sesampai di bioskop, kami memilih film yang romantis. Kami langsung memasuki ruangannya dengan popcorn dan minuman di tangan. Film pun dimulai, dan sesaat kemudian di pertengahan film, air mata ini tiba-tiba membasahi pipi saya. Andi yang duduk tepat di sebelah  tertawa melihat saya yang nangis ketika menonton film ini. “Begitu sedihkah filmnya?” tanya Andi sambil tersenyum. “Iya, ini film benar-benar sedih” dengan sedikit isakan saya menjawab.
Usai sudah film yang kami tonton, dan kami duduk santai di lobby. Andi yang saat itu menatapi saya dengan serius, dan saya pun heran dengan arti tatapan itu. “Andi” saya menyenggol tangannya yang saat itu sedang melamun ketika menatap saya. “Ca, kamu mau jadi pacar aku?” tiba-tiba kata yang keluar dari mulut Andi ini membuat jantung berhenti seketika. Saya terdiam sejenak dan sedikit tidak percaya apa yang dikatakan Andi barusan. “Ca, aku sayang kamu?” sekali lagi Andi mengatakannya tepat di depan saya. Saya sangat senang mendengarnya, namun apalah arti dari kata-kata itu. Minggu depan adalah waktu di mana saya akan meninggalkan kota ini. Bunda telah mendaftarkan saya di Pondok Pesantren di Jawa Timur. “Aku juga punya perasaan ke kamu, semenjak kita satu kelas” itu jawaban yang keluar dari mulut. “Kalau gitu, kita sekarang jadian?” tanya Andi untuk sekian kalinya. “Tapi, apakah bisa kita pacaran?, sedangakan minggu depan keberangkatan aku ke Jawa Timur, aku akan masuk Pondok Pesantren di sana” saya memberitahukan yang sebenarnya ke Andi. “Itu tidak amasalah, aku  bisa menunggumu” kata Andi dengan harapan. “Okey, kita coba” kata saya.
Selama seminggu ini, kita selalu telepon-teleponan dan bahkan kita jalan dengan sahabat-sahabat saya di hari sebelum keberangkatan. Dan tibalah di mana hari saya akan meninggal kota bertuah ini. Bunda dan Ayah mengantarkan saya ke bandara. Saya pergi hanya seorang diri, nantinya setiba di sana ada paman yang akan menjemput dan mengurus persiapan untuk masuk Pondok.
Ketika saya akan melakukan chek in, ada yang memanggil saya dari belakang. “Ca...” teriakan Andi. Saya tidak menyangka, Andi menyusul saya ke bandara dengan sahabat-sahabat saya. “Hai...” hanya itu kata-kata yang bisa keluar. “Pokoknya aku akan selalu menunggumu” kata Andi. “Iya Ca, kamu jaga diri ya di sana” kata mereka. “Iya, makasih semuanya” sambil memeluk sahabat-sahabat yang sangat saya sayangi ini. “Ketika aku pulang, aku akan segera mengabarinya” kata saya sambil menatap ke Andi. “Sayang hati-hati ya...” kata Bunda dan Ayah dengan kecupan yang hangat. “Bunda, Ayah juga jaga diri baik-baik ya...kalian semua juga” kata-kata perpisahanpun keluar dan melambaikan tangan ke mereka.
Setahun kemudian berakhir, sayapun kembali ke Pekanbaru. Setibanya di rumah, saya langsung menelpon sahabat-sahabat yang selama ini saya rindukan. Di tengah obrolan kami, tiba-tiba suara Aini yang sepertinya sedang sedih “Ca, kita ada kabar buruk” kata Aini. “kabar buruk apa?” kata saya dengan rasa penasaran. “Andi meninggal tadi malam tepat pukul 9” kata Aini dengan pelannya. Pikiran jadi kosong, jantung pun sempat terhenti, dan air mata bercucuran dengan derasnya. “Dia kecelakaan tadi malam, saat di bawa ke rumah sakit, ternyata nyawanya sudah tidak dapat ditolong lagi” Aini melanjutkan ceritanya. “Innalillahi wa Innailaihi raji’un” suara hati saya dan yang selalu bertanya-tanya kalau ini tidak benar. “Dhuhur ini aku sama yang lainnya ke rumah mu, kita pergi ke rumahnya” Aini yang selalu berbicara, namun saya menghiraukannya. Saya masih tidak percaya akan kejadian ini, saya ingat kata-kata sebelum saya berangkat ke Jawa. “Ca...” kata Aini untuk menyadari saya yang dari tadi tidak mengeluarkan suara sama sekali.
Dhuhur kami sudah sampai di rumah Andi yang hanya 15menit dari rumah saya dengan kendaraan. Kami mulai masuk kerumah Andi, dan melihat ada tenda dan bendera putih di depan rumahnya, serta warga-wargapun ramai memasuki rumah itu. Saya menguatkan langkah kaki ini untuk masuk ke dalam rumahnya. Ketika saya berdiri tepat di depan tubuh yang tertutupi kain putih ini, kaki ini menjadi lemah dan akhirnya saya rubuh tanpa mempedulikan orang-orang di sekitar. Namun, di dalam hati ini memberikan saya kekuatan untuk siap menghadapi semua yang terjadi. Akhirnya saya bangkit kembali setelah beberapa menit terdiam, dan mendekati tubuh yang tidak bergerak itu lagi. Saya memberanikan diri untuk melihat wajahnya, dan ternyata itu benar-benar wajah yang selama ini telah menunggu saya. Dan saya hanya bisa berdo’a untuk seseorang yang telah lama ada di hati, dan meminta kekuatan untuk bisa menerima musibah ini.

Dini Hasdianti/dhasdianti@gmail.com

dini punya cerita #1

“TIME is LOVE” Kringgg..kringgg...kringgg..., alarm berbunyi menunjukkan pukul lima pagi yang mana waktu subuh telah masuk. Saya segera ...